Perspektif Antropologi Tentang Miskomunikasi Antar Teman

 PERSPEKTIF ANTROPOLOGI TENTANG MISKOMUNIKASI ANTAR TEMAN 

 

Shafa Anindya Sari, Novalia Agung W. Ardhoyo 

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) 

 

ABSTRAK  

Antropologi merupakan salah satu bidang ilmu yang menjadi akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropologi tersebut akhirnya para ahli budaya menyadari bahwa dalam budaya sangat bergantung pada komunikasi. Dalam antropologi, manusia merupakan komponen penting bagi dirinya dan bagi lingkungannya. Manusia sebagai makhluk sosial harus selalu hidup bersama. Manusia selalu hidup bersama dalam kesatuan entah itu dalam kelompok kecil maupun besar. Pada topik jurnal ini, peneliti mengangkat topik miskomunikasi antar teman. Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik tersebut serta cara menyelesaikan konflik yang terjadi di antara dua orang yang memiliki hubungan erat. Penulis menggunakan teori komunikasi Laswell sebagai acuan dalam menulis jurnal ini. Metode komunikasi yang dilakukan adalah wawancara dengan narasumber dan melakukan observasi partisipan atas peristiwa yang terjadi.  

Kata kunci : Miskomunikasi, konflik, kepercayaan  

 

 

PENDAHULUAN 

Antropologi merupakan salah satu bidang ilmu yang menjadi akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropologi tersebut akhirnya para ahli budaya menyadari bahwa dalam budaya sangat bergantung pada komunikasi. Hal inilah yang kemudian dikaji mengenai proses dari komunikasi tersebut. hingga lahirlah ilmu komunikasi dari antropologi. Menurut Ember dan Ember (1990:11), secara harafiah, Antropologi adalah studi tentang manusia. Berbeda dengan disiplin lain yang mempelajari manusia, antropologi berfokus pada manusia di semua tempat di dunia, menemukan evolusi manusia, serta perkembangan budaya dari masa lalui hingga kini. Karakter Antropologi yang membedakan dengan ilmu lain adalah pada pendekatannya yang bersifat holistik. Antropologi tidak hanya mempelajari ragam manusia, namun juga mempelajari semua aspek pengalaman manusia. 

Dalam antropologi, manusia merupakan komponen penting bagi dirinya dan bagi lingkungannya. Manusia sebagai makhluk sosial harus selalu hidup bersama. Manusia selalu hidup bersama dalam kesatuan entah itu dalam kelompok kecil maupun besar. Kesatuan inilah manusia hidup saling berinteraksi, bekerja sama, dan bertukar pengetahuan untuk dapat mencapai tujuan hidupnya. Dari proses interaksi inilah peran komunikasi dibutuhkan. Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Proses komunikasi tidak mungkin terhindarkan oleh seseorang  karena setiap perilaku seseorang memiliki potensi untuk berkomunikasi.   

Komunikasi adalah proses penyebaran pesan atau informasi dari individu ke individu lain maupun dari individu ke kelompok dan kelompok ke kelompok. Komunikasi dapat berbentuk verbal dan nonverbal, komunikasi verbal merupakan komunikasi dalam bentuk lisan atau tulisan sedangkan komunikasi non verbal merupakan komunikasi yang umumnya menggunakan bahasa tubuh ataupun simbol-simbol seperti ekspresi, gerakan tangan, tanda, dsb. Menurut ilmuwan politik Amerika Serikat sekaligus pencetus teori komunikasi, Harold Lasswell, komunikasi adalah suatu proses menjelaskan siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa (who says what in which channel to whom and with what effect).  

Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Readerdimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19).  

Alo Liliweri (2003, p. 13) mendefinisikan proses komunikasi antar budaya sebagai interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi antar budaya (intercultural communication) menyatakan bahwa komunikasi antar budaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.  

Secara spesifik menurut Linton (1945: 32), budaya merupakan konfigurasi perilaku manusia dari elemen-elemen yang ditransformasikan oleh anggota masyarakat. Secara umum budaya telah dianggap sebagai milik manusia dan digunakan sebagai alat komunikasi sosial yang di dalamnya terdapat proses imitasi (peniruan). 

Dalam Ilmu komunikasi dijelaskan bahwa gangguan atau yang bisa di sebut noise dalam komunikasi terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yang melatar belakangi hal tersebut seperti, ilmu pengetahuan, budaya dan lingkungan. Dikarenakan hal tersebut, terjadi perbedaan pengertian diantara komunikator dan juga komunikan. Proses komunikasi yang tidak mudah menimbulkan gangguan yang dapat berakhir menjadi konflik. Salah satu gangguan dalam komunikasi yaitu, miskomunikasi. Miskomunikasi terjadi karena pesan atau informasi yang disampaikan oleh salah satu pihak tidak diterima dengan baik oleh pihak lainnya sehingga terjadi kesalahpahaman yang dapat berakhir menjadi konflik. Faktor terjadinya miskomunikasi dimulai dari pesan yang tidak tersampaikan secara keseluruhan, ada perbedaan informasi di dalam pesan, hingga hal-hal lain yang membuat masalah baru bisa muncul.  

Berdasarkan kasus konflik yang peneliti ambil, konflik terjadi karena adanya miskomunikasi diantara dua orang perempuan remaja yang terlibat kesalahpahaman. Miskomunikasi ini didasari oleh kesalahpahaman serta keraguan mendasar antara Lia (nama samaran) serta Nata (nama samaran). Lia dan Nata merupakan dua pasang sahabat yang sudah bersahabat semenjak keduanya menduduki bangku SMP. Keduanya mempunyai karakter dan sifat yang sangat berbeda. Namun, keduanya memiliki banyak kesamaan dalam beberapa aspek. Salah satunya adalah kegemaran mereka dalam membaca buku. Sering kali keduanya bertukar pikiran untuk membahas buku yang mereka baca. Walaupun seringkali bergesekan pendapat ketika keduanya bertukar pikiran, tidak pernah sekali pun keduanya terlibat dalam konflik yang memuat keduanya bermusuhan. Alasannya karena mereka sudah sangat mengenali akan karakter serta sifat satu sama lain. Hingga rasa kepercayaan keduanya tumbuh besar seiring berjalannya waktu. 

Tetapi, konflik muncul ketika keduanya terlibat miskomunikasi yang berlandas dari kesalahpahaman. Hal ini terjadi ketika keduanya menduduki bangku SMA. Lia yang mendapat kabar dari Nata bahwa ada buku keluaran terbaru dari series buku yang keduanya baca langsung saja meminta bantuan Nata untuk memesankan buku tersebut untuknya. Tentu saja, Nata menyetujuinya karena keduanya memang terbiasa melakukannya. Namun, beda dari biasanya timbul masalah ketika Nata memesankan buku untuk dirinya dan Lia. Nata yang memesan buku melalui aplikasi online shop tidak teliti dalam memilah toko. Hingga dia akhirnya menyadari ada kesalahan ketika buku tersebut sampai di rumahnya.  

Ketika paket buku tersebut dibuka, Nata menyadari ada keganjalan pada buku tersebut. Mulai dari cetakannya yang buruk, warna sampul yang berbeda, sampai tidak adanya segel. Nata langsung menyadari bahwa dirinya baru saja terkena tipu dan dirinya membeli buku bajakan. Langsung saja Nata menghubungi toko online shop tersebut untuk menanyakan barang yang dia terima. Namun, tidak ada respon apapun. Nata harus menerima kekecewaan bahwa dirinya baru saja membeli buku palsu. Walaupun memiliki isi yang sama namun, dalam segi fisik buku sangalah berbeda dengan buku yang asli. Sebenarnya bisa saja Nata kembali membeli buku tersebut, namun karna keterbatasan dana akhirnya Nata lebih memilih diam.  

Lia yang tidak mengetahui akan kejadian tersebut menjadi bertanya-tanya. Terlebih Nata tidak menanggapinya apabila ditanya perihal buku tersebut. Nata justru seringkali mengalihkan topik pembicaraan. Lia yang mulai curiga bahwa ada yang ditutupi oleh Nata pun akhirnya mendesak Nata untuk jujur saja kepadanya. Tapi, bukannya jujur Nata justru menghindar dan menjauhi Lia. Nata merasa bersalah kepada Lia dan memilih menjauh serta diam saja. Tanpa menyadari bahwa Lia menjadi meragukan kepercayaan Nata kepadanya. Lia menjadi mempertanyakan dirinya sendiri apakah dirinya tidak dapat dipercayai itu sampai Nata memilih menjauh dibanding bercerita dengannya. Dari situlah miskomunikasi terjadi.  

Kepercayaan yang sudah terbangun di antara keduanya terjadi gesekan karna tidak adanya komunikasi yang baik di antara keduanya. Lia yang menaruh rasa kepercayaan yang besar kepada Nata menjadi meragukan dirinya sendiri dan juga persahabatan keduanya. Dengan alasan yang jelas bahwa Nata yang menjauhinya dan menyembunyikan masalah tersebut sendiri tanpa memberitahunya. Kesalahpahaman keduanya didasari oleh keraguan yang terus menumpuk hingga terjadilah konflik di antara keduanya.  

Alasan peneliti mengangkat topik tersebut dikarenakan saya menyaksikan konflik tersebut. Nara sumber merupakan teman-teman terdekat saya. Konflik tersebut dapat terjadi dikarenakan keraguan berdasar yang merujuk ke kesalahpahaman. Komunikasi yang kurang di antara keduanya menjadikan rasa kepercayaan yang sudah dibangun keduanya mudah terjadi gesekan hingga akhirnya terjadilah miskomunikasi.  

Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik tersebut serta cara menyelesaikan konflik yang terjadi di antara dua orang yang memiliki hubungan erat. 

 


METODOLOGI PENELITIAN  

  1. DATA INFORMAN  

Informan 1  

Nama     : Lia (nama samaran) 

Usia        : 20 tahun 

Kelamin  : Perempuan 

  

 Informan 2 

Nama      : Nata (nama samaran)  

Usia        : 20 tahun 

Kelamin  : Perempuan 

  

  1. RENCANA TEKNIK PENGUMPULAN DATA  

                Wawancara 

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau informan. Wawancara mempunyai tiga bentuk yaitu wawancara terstruktur, wawancara tidak terstruktur dan juga wawancara campuran.  

Pada penelitian ini, saya menggunakan wawancara tidak terstruktur karna teknik wawancara yang dilakukan secara bebas. Dimana pewawancara serta narasumber dapat memberikan pertanyaan serta memberikan jawaban secara luwes tanpa ada patokan dalam bertanya maupun menjawab. Sehingga informasi yang didapatkan akan lebih detail. Karna dapat menggali informasi lebih mendalam dan berkualitas.  

Wawancara ini digunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang miss communication yang terjadi diantara kedua sahabat, yaitu Nata dan Lia. Dimana keduanya terlibat miss communication yang terjadi akibat keteledoran Lia serta asumsi Nata. 

 

  1. Observasi 

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung pada kegiatan yang akan diteliti. Observasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu observasi partisipasi dan observasi non partisipasi.  

Pada penelitian jurnal ini, peneliti menggunakan observasi partisipan dikarenakan peneliti terlibat dalam konflik yang diteliti.  

 

ANALISIS PEMBAHASAN  

Peneliti menggunakan teori resolusi konflik sebagai acuan dalam penulisan jurnal ini. Resolusi konflik dalam bahasa Inggris dikenal dengan conflict resolution yang memiliki makna berbeda-beda menurut para ahli yang fokus meneliti tentang konflik. Resolusi dalam Webster Dictionary menurut Levine (1998: 3) adalah (1) tindakan mengurai suatu permasalahan, (2) pemecahan, (3) penghapusan atau penghilangan permasalahan. Menurut pendapat Nicholson (Nicholson, 1991:59) conflict resolution is the process facilitating a solution where the actors no longer feel the need to indulge in conflict activity and feel that the distribution of benefits in social system is acceptable”. Berdasarkan definisi menurut Nicholson tersebut resolusi konflik menjadi suatu jalan keluar terciptanya suatu proses solusi terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan oleh konflik. Resolusi konflik merupakan suatu proses upaya untuk meredam atau bahkan menyelesaikan sebuah konflik. Sebagaimana Kriesberg (2006:107) mendefinisikan resolusi konflik sebagai conducting conflicts, constructively, even creatively”. Hal itu berarti meminimalkan kekerasan yang timbul akibat konflik, mengatasi permusuhan yang terjadi antara pihak yang berkonflik, membuat suatu hasil yang saling dapat diterima oleh para pihak yang berkonflik dan suatu penyelesaian yang dapat dipertahankan dengan baik dan berkelanjutan secara damai.  

Sedangkan Weitzman & Weitzman (dalam Morton & Coleman 2006: 197) mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan pemecahan masalah 47 yang dilakukan bersama-sama (solve a problem together). Lain halnya dengan Fisher (2001: 7) yang menjelaskan bahwa resolusi konflik adalah usaha menangani penyebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang terlibat. Menurut Mindes (2006: 24) resolusi konflik merupakan kemampuan untuk mengintegrasikan perbedaan dan merupakan aspek penting dalam pembangunan sosial dan moral yang memerlukan keterampilan serta keahlian untuk bernegoisasi, kompromi serta mengembangkan rasa keadilan dalam pihak-pihak yang berkonflik. 

Resolusi konflik adalah setiap upaya yang ditujukan untuk menyelesaikan pertentangan atau perselisihan dalam berbagai lini kehidupan manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Miall bahwa resolusi konflik adalah istilah komprehensif yang mengimplikasikan bahwa sumber konflik yang dalam dan berakar akan diperhatikan dan diselesaikan. Pada hakikatnya resolusi konflik itu dipandang sebagai upaya penanganan sebab-sebab konflik dan berusaha menyelesaikan dengan membangun hubungan baru yang bisa tahan lama dan positif di antara kelompok-kelompok atau pihak-pihak yang bermusuhan (Miall, 2002: 31). 

Berdasarkan pemaparan teori menurut para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa resolusi konflik adalah suatu cara pihak yang berkonflik dengan atau tanpa bantuan pihak luar untuk menyelesaikan konflik. Resolusi konflik menggunakan cara-cara yang lebih demokratis dan konstruktif untuk menyelesaikan konflik dengan memberi kesempatan kepada diri mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik tersebut sendiri ataupun dengan bantuan seorang penengah sebagai sosok yang netral. Tujuan dari teori resolusi konflik sendiri adalah untuk menangani konflik dengan memperhatikan sebab-sebab konflik dan berusaha menyelesaikan konflik dengan kepala dingin atau berperilaku secara positif.  

Menurut Galtung (1976: 21) terdapat beberapa cara resolusi konflik yang digunakan dalam proses penyelesaian konflik. Konflik dapat dicegah atau diatur jika pihak-pihak yang berkonflik dapat menemukan cara atau metode menegosiasikan perbedaan kepentingan dan menyepakati aturan main untuk mengatur konflik di antara mereka. Johan Galtung kemudian menawarkan beberapa model yang dapat dipakai sebagai proses resolusi konflik, meliputi peacemaking, peacekeeping, dan peacebuilding.  

Tahap paling awal yaitu peacemaking yang harus dilakukan untuk sesegera mungkin menciptakan suatu perdamaian sebelum konflik semakin membesar. Perdamaian dapat terwujud dengan daya upaya negosiasi antara mereka yang terlibat dalam kesalahpahaman. Lalu dilanjut kepada tahap peacekeeping. Peacekeeping sendiri memiliki arti sebagai proses penjagaan keamanan dengan pengakuan masing-masing pihak terhadap perjanjian dan berusaha untuk selalu menjaganya sebagai sebuah perisai dalam penyelesaian konflik yang bisa saja terjadi selanjutnya. Tahap terakhir yaitu peacebuilding. Peacebulding merupakan hal penting setelah peacemaking dan peacekeeping. Peacebuilding diartikan sebagai strategi atau upaya yang mencoba mengembalikan keadaan yang terjadi dalam konflik dengan cara membangun komunikasi yang baik diantara mereka berkonflik.  

 Ketiga rangkaian model resolusi konflik yang dikemukakan oleh Galtung memiliki dimensi dan target serta tujuan masing-masing, namun serangkain model tersebut akan bermuara pada tujuan akhir yang sama yaitu mewujudkan perdamaian jangka panjang dalam upaya menciptakan resolusi konflik. 

Berdasarkan pernyataan Galtung akan teori resolusi konflik tersebut, perilaku Lia saat menanyakan hal disembunyikan oleh Lia merupakan tahap awal resolusi konflik yaitu peacemaking. Lia yang tidak ingin keduanya terlibat masalah memberanikan dirinya sendiri untuk berbicara kepada Nata secara empat mata. Walaupun tidak membuahkan hasil yang maksimal, darisini Nata dapat merasakan bahwa tindakannya tidak baik dan dapat membuat keduanya terlibat konflik yang lebih jauh.  

Selanjutnya pada proses peacekeeping, Nata yang merasa bersalah kepada Lia memutuskan untuk menyembunyikan masalahnya dengan menjauhi Lia ataupun mengganti topik pembicaraan ketika mulai merujuk kepada sebab konflik terjadi. Namun, Lia secara gamblang meminta Nata untuk jujur saja karna dirinya tahu bahwa semakin lama Nata menyembunyikan masalahnya akan semakin runyam masalahnya.  

Pada proses peacebuilding, Lia tetap menghargai sikap Nata yang menjauhinya. Hal itu dilakukan karna dirinya merasa bahwa Nata belum siap untuk bercerita. Dan juga hal ini dilakukan agar dirinya juga tidak semakin kecewa kepada Nata yang seakan kurang mempercayai dirinya.  

Pada jurnal ini, peneliti menggunakan wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipan sebagai acuan penelitian. Menurut Riyanto (2010),Observasi partisipan adalah metode pengumpulan jenis data penelitian yang dilakukan dengan menghubungkan seorang peneliti secara langsung untuk terjun ke tempat penelitian sehingga mengambil bagian dalam kegiatan observasi.  

Kelebihan Observasi 

  • Data yang dikumpulkan cenderung lebih akurat dan objektif karena peneliti hanya mengamati subjek tanpa mempengaruhinya. 

  • Observasi juga dapat dilakukan dalam berbagai situasi, seperti saat subjek tidak menyadari bahwa sedang diamati. 

Kekurangan Observasi 

  • Waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama dibandingkan dengan metode pengumpulan data lainnya. 

  • Memerlukan kemampuan yang baik dalam pengamatan dan interpretasi data. 

 

Sementara itu, Sugiyono (2017), Wawancara tidak terstruktur adalah bagian penyebutan daripada adanya wawancara bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Adanya untuk contoh pedoman wawancara hanya garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. 

Kelebihan wawancara tidak terstruktur : 

  • Wawancara tidak terstruktur lebih fleksibel karena pertanyaan dapat diadaptasi dan diubah tergantung pada jawaban responden. 
  • Wawancara tidak terstruktur menghasilkan data kualitatif melalui penggunaan pertanyaan terbuka, karena memungkinkan responden untuk berbicara atau menyampaikan pandangannya secara lebih detail dan memilih kata-kata mereka sendiri. Hal tersebut membantu peneliti mengembangkan arti sebenarnya dari pemahaman seseorang tentang suatu situasi. 
  • Memungkinkan peningkatan validitas karena memberi pewawancara kesempatan untuk menyelidiki pemahaman yang lebih dalam. 

Kelemahan wawancara tidak terstruktur : 

  • Dapat memakan waktu yang lama untuk melakukan wawancara tidak terstruktur dan menganalisis data kualitatif (menggunakan metode seperti analisis tematik). 
  • Pekerjakan dan pelatihan pewawancara mahal, dan tidak semurah mengumpulkan data melalui kuesioner. Misalnya, keterampilan tertentu mungkin dibutuhkan oleh pewawancara, termasuk kemampuan untuk membangun hubungan dan mengetahui kapan harus menyelidiki. 

 

  • Peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur dengan rincian pertanyaan sebagai berikut : 

  • Apa sebab awal dari kesalahpaham yang terjadi ? 
    Nata menjabarkan bahwa kesalahpahaman terjadi ketika dirinya melakukan kesalahan dan takut untuk mengakuinya kepada Lia. Sedangkan, menurut Lia kesalahpahaman mulai terjadi ketika Nata mulai menjauhinya.  

  • Bagaimana kalian berdua dapat menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi ? 
    Lia yang tidak tahan akan sikap Nata yang menjauhinya akhirnya berterus terang tentang apa yang dia rasakan. Bagaimana dirinya merasa tidak dipercaya oleh Nata hingga Nata menyembunyikan sesuatu darinya sampai sikap Nata yang justru menjauhinya bukannya menjelaskan apa yang terjadi oleh Nata. Nata yang akhirnya menyadari kesalahannya akhirnya menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Mulai dari kecerebohan dirinya sampai tindakannya yang kekanakan dengan menjauhi Lia dan bukannya berusaha mencari solusi bersama. Keduanya pun saling meminta maaf dan memaafkan. Keduanya juga mendapatkan solusi untuk menabung kembali untuk mendapatkan buku yang mereka inginkan. Sedangkan buku bajakan yang mereka punya akhirnya dibiarkan begitu saja. Hal ini dijadikan pembelajaran bahwa keduanya untuk kedepannya.  

Peneliti pun juga melakukan observasi dengan memperhatikan sikap dan perilaku keduanya selama ini. Nata yang cenderung menghindar karna takut untuk jujur kepada Lia. Lalu, Lia yang semakin hari semakin murung karena Nata yang menjauhinya dan tidak mempercayainya. Keduanya seakan terjebak dalam pikiran masing-masing, membuat kesalahpahaman di antara keduanya tidak juga terselesaikan.  

  • Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa : 

  • Sebab terjadinya kesalahpahaman itu karena adanya miskomunikasi di antara Lia dan Nata. Miskomunikasi terjadi disebabkan oleh sikap Nata yang menjauhi Lia setelah melakukan kesalahan. Membuat Lia meragukan dirinya sendiri yang tidak dipercaya oleh Nata.  

  • Lia dan Nata menyelesaikan masalahnya dengan berunding. Keduanya saling jujur agar keduanya belah pihak bisa saling memahami. Keduanya tidak terus menerus saling diam dan tinggal menunggu waktu keduanya meragukan hubungan persahabatan yang telah terbangun selam bertahun-tahun. Keduanya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin hingga kepercayaan yang mereka punya tidak menjadi bualan semata. 

 

KESIMPULAN  

Antropologi merupakan salah satu bidang ilmu yang menjadi akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropologi tersebut akhirnya para ahli budaya menyadari bahwa dalam budaya sangat bergantung pada komunikasi. Berkembangnya budaya juga membuat konflik semakin seirng terjadi. Konflik dapat terjadi dengan alasan apapun. Salah satunya adalah kesalahpahaman yang sering disebut dengan miskomunikasi. Miskomunikasi yanng terjadi dapat membuat hubungan yang telah terjalin menjadi renggang. Konflik dapat dihindari dengan terus menerus mengingatkan bahwa komunikasi yang baik itu sangatlah penting. Sehingga kedua belah pihak bisa saling memahami dan mempercayai. Darisitulah visi yang sama bisa terbentuk dan terciptalah kerukunan tanpa adanya konflik dilingkungan sekitar kita.  


DAFTAR PUSTAKA  

Muchtar , K., Setiaman , A., & Koswara, I. (2016). Komunikasi Antar Budaya Dalam Persepektif Antropologi. Jurnal Manajemen Komunikasi. Diambil dari : http://jurnal.unpad.ac.id/manajemen-komunikasi/article/view/10064/4923 

 

Penelitianilmiah.com. (2022). Pengertian Wawancara Tidak Terstruktur, Kelebihan, Kelemahan, dan Contohnya. Retrieved from penelitianilmiah.com: https://penelitianilmiah.com/wawancara-tidak-terstruktur/ 

 

Ascarya Academia. (2023). Perbedaan Obbservasi dan Wawancara : Mana Yang Lebih Baik Untuk Penelitian Anda. Diamil dari Ascarya Academia: https://ascarya.or.id/perbedaan-observasi-dan-wawancara/#:~:text=Observasi%20hanya%20melibatkan%20pengamatan%20dan%20memberikan%20data%20tentang%20perilaku%20dan,sifat%20data%20yang%20ingin%20dikumpulkan 

 

 

 

Komentar